Asal Usul dan Sejarah Kerajaan Sunda Galuh

Kerajaan Sunda Galuh pertama kali didirikan oleh Raja Tarusbawa sekitar tahun 591 Caka Sunda (669 M). Menurut catatan sejarah menjelaskan bahwa pada abad ke – 16 kerajaan ini adalah sebuah kerajaan besar yang wilayahnya (saat ini) meliputi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan bagian barat dari Provinsi Jawa Tengah.

Batas Kerajaan Sunda Galuh di sebelah timur adalah Sungai Cipamali atau Kali Brebes dan Sungai Ciserayu atau Kali Serayu di Provinsi Jawa Tengah.

Sebelum menjadi sebuah kerajaan besar yang mandiri, Sunda adalah wilayah bawahan Tarumanagara, Raja Tarumanagara yang terakhir adalah Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi yang memerintah kerajaan hanya dalam jangka waktu cukup singkat yaitu selama 3 tahun (666 s/d 669 M), menikah dengan putri dari Kerajaan Indraprahasta bernama Dewi Ganggasari yang mempunyai 2 anak masing – masing bernama Dewi Manasih sebagai putri sulung menikah dengan Raja Tarusbawa dari Sunda, sedangkan anak kedua bernama Sobakancana menikah dengan Raja Dapuntahyang Sri Janayasa yang dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri Kerajaan Sriwijaya.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Setelah Raja Linggawarman wafat selanjutnya kekuasaan Tarumanagara diberikan kepada menantunya yaitu Tarusbawa yang menyebabkan penguasa Galuh pada waktu itu yang bernama Wretikandayun (612 s/d 702) melakukan pemberontakan lalu melepaskan diri dari Tarumanagara dan mendirikan Kerajaan Galuh sementara Tarusbawa menghendaki tetap melanjutkan pemerintahan Kerajaan Tarumanagara.

Raja Tarusbawa selanjutnya memindahkan pusat dan kekuasaan kerajaan ke Sunda dengan mendirikan Kerajaan Sunda dan beliau dinobatkan sebagai Raja Sunda tahun 669 M. Seperti dijelaskan di atas, batas – batas Kerajaan Sunda dan Galuh dipisahkan oleh Sungai Citarum ( Sunda berada di sebelah barat dan Galuh berlokasi di sebelah timur).

Dengan berdirinya Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh merupakan sebuah pertanda bahwa kekuasaan Kerajaan Tarumanagara telah berakhir.

Kerajaan Sunda pada awal berdiri tak pernah mengadakan / mengalami masa – masa perwalian dari Kerajaan Tarumanagara. Sedangkan Kerajaan Galuh yang berlokasi di Tegal beribukotakan di Medangkamulyan dimana Tarusbawa menjalin tali persahabatan dengan Raja Galuh Bratasenawa atau Sena.

Adalah Purbasora merupakan cucu pendiri Kerajaan Galuh melakukan pemberontakan guna merebut tahta Galuh pada tahun 716 M karena beliau merasa berhak untuk naik tahta dibandingkan dengan Sena.

Selanjutnya Sena melarikan diri ke Kerajaan Kalingga yang menikah dengan Sanaha adalah cucu dari Maharani Sima, Ratu Kalingga. Kelak, Sanjaya anak Sena akan menuntut balas kepada Purbasora. Sanjaya memimpin Kerajaan Sunda, ia merupakan menantu dari Raja Tarusbawa setelah menyerang Kerajaan Galuh dimana yang selamat hanyalah seorang Senapati Kerajaan yaitu Balangantrang. Sanjaya memegang 2 tahta sekaligus yaitu sebagai Raja Sunda dan Galuh. Sunda Galuh pada akhirnya diserahkan kepada tangan kanan Sanjaya bernama Premana Dikusuma yang memiliki istri bernama Naganingrum dan memiliki seorang anak bernama Surotama alias Manarah.

Pada tahun 732 M, Sanjaya diberi ahli waris berupa tahta Kerajaan Medang dari kedua orangtuanya dan sebelum ia menuju ke kawasan Jawa Barat untuk sebuah tugas, ia terlebih dahulu mengatur pembagian kekuasaan untuk putranya yang bernama Tamperan dan Resiguru Demunawan. Sunda Galuh selanjutnya diberikan kepada Pangeran Tamperan sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resiguru Demunawan.

Balangantrang bersama dengan Manarah atau Ciung Wanara menyerang Galuh hanya dalam jangka waktu semalam saja bersama dengan pasukan Geger Sunten yang dibangun di wilayah Kuningan.

Semua tewas dan sebagian lagi ditawan kecuali seorang tokoh bernama Banga yang dibebaskan untuk selanjutnya membebaskan kedua orangtuanya yang menyebabkan munculnya pertempuran seru untuk kedua kalinya yang menyebabkan Tamperan dan anak buahnya tewas termasuk Banga kalah dan menyerah.

Sanjaya mengetahui kejadian buruk tersebut di atas kemudian menyerang Manarah dan sempat terjadi peperangan namun berhasil dilerai oleh Demunawan, mereka pada akhirnya bersepakat bahwa Kerajaan Galuh akan diserahkan kepada Manarah sedangkan Sunda buat Banga dan kelompoknya.

Meskipun sudah melalui sebuah kesepakatan, konflik terus terjadi dimana kehadiran orang – orang dari Galuh sebagai Raja Sunda pada waktu itu belum bisa diterima dengan baik seperti halnya kehadiran Raja Sanjaya dan Pangeran Tamperan yang merupakan orang Sunda di Galuh. Inilah yang menyebabkan pusat pemerintahan mereka berpindah – pindah dari barat ke timur atau sebaliknya yang terjadi antara tahun 895 s/d 1311 M.

Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda meliputi daerah yang sekarang ini menjadi wilayah bagian Provinsi Lampung yang didapat melalui pernikahan dilakukan antar keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung dipisahkan antara bagian Kerajaan Sunda oleh Selat Sunda.

Nah menurut sejarah Kota Ciamis, pembagian wilayah Sunda Galuh bisa dijelaskan sebagai berikut :

  • Wilayah Pajajaran terletak di Bogor dengan ibukota adalah Pakuan
  • Wilayah Galuh Pakuan memiliki ibukota di Kawali
  • Wilayah Galuh Sindula terletak di daerah Lakbok dengan ibukota di Medang Gili
  • Wilayah Galuh Rahyang terletak di Brebes beribukota di Medang Pangramesan
  • Wilayah Galuh Kalangan berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan
  • Wilayah Galuh Lalean terletak di Cilacap beribukota Medang Kamulan
  • Wilayah Galuh Pataruman terletak di Banjarsari beribukota Br. Pataruman
  • Wilayah Galuh Kalingga terletak di Bojong beribukota Karangkamulyan
  • Wilayah Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo

Raja – Raja Kerajaan Sunda Galuh

  • Tarusbawa adalah menantu Linggawarman (669 s/d 723 M)
  • Sanjaya adalah menantu Tarusbawa (723 s/d 732 M)
  • Tamperan Barmawijaya (732 s/d 739 M)
  • Rakeyan Banga (739 s/d 766 M)
  • Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 s/d 783 M)
  • Prabu Gilingwesi (783 s/d 795 M)
  • Darmeswara adalah menantu Prabu Gilingwesi (795 s/d 819 M)
  • Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 s/d 891 M)
  • Darmaraksa adalah adik ipar Rakeyan Wuwus (891 s/d 895 M)
  • Windusakti Prabu Dewageng (895 s/d 913 M)
  • Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 s/d 916 M)
  • Rakeyan Jayagiri adalah menantu Rakeyan Kamuning Gading (916 s/d 942)
  • Atmayadarma Hariwangsa (942 s/d 954 M)
  • Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading) (954 s/d 964 M)
  • Munding Ganawirya (964 s/d 973 M)
  • Rakeyan Wulung Gadung (973 s/d 989 M)
  • Raja Brajawisesa (989 s/d 1012 M)
  • Dewa Sanghyang (1012 s/d 1019 M)
  • Sanghyang Ageng (1019 s/d 1030 M)
  • Raja Sri Jayabupati (1030 s/d 1042 M)
  • Darmaraja (1042 s/d 1065 M)
  • Langlangbumi (1065 s/d 1155 M)
  • Rakeyan Jayagiri Prabu Menakluhur (1155 s/d 1157 M)
  • Darmakusuma (1157 s/d 1175 M)
  • Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 s/d 1297 M)
  • Ragasuci (1297 s/d 1303 M)
  • Citraganda (1303 s/d 1311 M)
  • Prabu Linggadewata (1311 s/d 1333 M)
  • Prabu Ajiguna Linggawisesa (1333 s/d 1340 M)
  • Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340 s/d 1350 M)

Dan masih ada 12 raja lainnya pernah memerintah Kerajaan Sunda Galuh mulai dari tahun 1350 s/d 1567 M dengan latarbelakang peristiwa yang pernah terjadi di dalamnya. Raja terakhir adalah Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567 s/d 1579 M).

Dari sisi budaya, rakyat Sunda terkenal memiliki karakter sebagai orang gunung yang lebih suka menetap di daerah kaki gunung dimana mereka dikenal sebagai orang air.  Faktor – faktor inilah yang secara turun – temurun menjadi bahan dongeng yang salah satunya sudah melegenda di tanah Sunda yaitu Sakadang Monyet Jeung, Sakadang Kuya, disampaikan kepada keturunan rakyat Sunda.

Hingga berada pada masa pemerintahan Raja Ragasuci (1297 s/d 1303 M), ibukota kerajaan mulai dipindahkan ke bagian timur yaitu Saunggalah yang populer disebut dengan nama Kawali. Raja sebelumnya adalah Raja Jayadarma yang memiliki istri bernama Dyah Singamurti berasal dari Jawa Timur mempunyai putra mahkota bernama Sanggramawijaya atau Raden Wijaya lahir di daerah Pakuan, beliau wafat dan setelahnya, istri dan Raden Wijaya kembali tinggal di Jawa Timur.

Kelak Raden Wijaya berhasil mendirikan sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Majapahit hingga jaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk dibantu Mahapatih Gajah Mada yang sukses mempersatukan seluruh Nusantara kecuali Kerajaan Sunda Galuh yang dipimpin oleh Raja Linggabuana, dimana beliau gugur bersama dengan anak gadisnya bernama Dyah Pitaloka Citraresmi dalam Perang Bubat pada tahun 1357 M. Sejak Peristiwa Bubat merenggut 2 nyawa keluarga istana kerajaan, kerabat Keraton Kawali ditabukan untuk melakukan perjodohan dengan kerabat Keraton Majapahit.

Sunda Galuh selanjutnya dipimpin oleh Niskala Wastukancana hingga turun – temurun beberapa puluh tahun selanjutnya Kerajaan Sunda mengalami masa – masa kejayaan terutama ketika masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja, Sunda Galuh tercatat dalam prasasti – prasasti sebagai Pajajaran dan Raja Sri Baduga Maharaja oleh rakyat Sunda diberi gelar Raja Siliwangi yang memindahkan ibukota ke bagian barat.

Sistem Kepercayaan Masyarakat

Sejak awal abad ke – 15, mulai disebarkan ajaran agama yang mengajarkan dan menekankan tentang pemujaan – pemujaan dilakukan terhadap ‘Hiyang’ khusus ditujukan kepada derajat ‘Dewata’ yang statusnya berada di bawah Hiyang. Ajaran agama yang dimaksud terpusat kepada Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian adalah ‘ratu bakti di dewata, dewata bakti di hiyang’ mengandung makna bahwa seorang Raja pada suatu kerajaan wajib tunduk kepada Dewata dan Dewata wajib tunduk kepada Hiyang. Menurut Tome Pires di dalam sebuah bukunya dengan judul ‘Summa Oriental’ (1513 s/d 1515) menjelaskan dengan singkat tentang raja – raja Sunda yang memuja berhala diikuti oleh semua pembesar dari kerajaan.

Kelanjutan isi naskah tersebut di atas adalah saat mengisahkan tentang penguasa alam telah selesai dalam menciptakan dunia beserta segala isinya.

Di dalam Prasasti Kawali 4 menjelaskan tentang keberadaan Sanghyang Lingga Hiyang yang dianggap sebagai Hiyang dimana dalam ajaran ‘Saiwa Siddhanta’ yang berkembang cukup pesat di Jawa dan Bali menyebutkan lebih jelas tentang lambang Dewa Siwa dan lambang – lambang kehampaan dunia. Mempunyai 2 aspek utama masing – masing dikenal sebagai ‘Siwalingga’ dan ‘Atmalingga’ sebagai media penunjuk arah terhadap penyatuan diri di dalam kehampaan atau Siwa.

Sistem Perekonomian Masyarakat

Bagi rakyat dari Kerajaan Sunda, perkembangan perekonomian dengan didirikannya pelabuhan – pelabuhan di sepanjang pesisir pantai telah mampu memberikan keuntungan yang signifikan terhadap laju perkembangan perekonomian kerajaan dimaksud di dalamnya. Sektor perdagangan yang menyertai semakin membantu memberikan sumbangan atau kontribusi terhadap perkembangan ekonomi Kerajaan Sunda Galuh.

Namun perkembangan pelabuhan – pelabuhan tersebut di atas juga rentan memicu kekhawatiran yang semakin membesar terutama di kalangan Pengusaha Sunda disebabkan karena perkembangan yang cukup besar biasanya akan diiringi dengan masuknya faktor – faktor yang kemungkinan besar justru dapat menghancurkan kerajaan bersangkutan. Faktor yang dimaksud adalah banyaknya pengunjung dari saudagar Islam menyebabkan Agama Islam di Kerajaan Sunda mulai tumbuh khususnya di daerah Cirebon merupakan sebuah ancaman yang cukup serius terhadap eksistensinya karena yang sebenarnya di daerah ini sudah lama mengembangkan kehidupan yang bercocok Islam.

Demikian kami mengulas tentang sejarah Kerajaan Sunda Galuh, semoga memberikan manfaat dan wawasan bagi para pembaca.

Recommended For You

About the Author: canadagooseoutlet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *